Beranda/Artikel/Mengapa Harga Emas Belum Kuat Naik Saat Konflik Memanas?
Finansial

Mengapa Harga Emas Belum Kuat Naik Saat Konflik Memanas?

Harga emas gagal menguat meski konflik Iran-AS meningkatkan ketidakpastian pasar. Sikap hawkish The Fed, penguatan dolar AS, serta penantian data tenaga kerja Amerika Serikat membuat tekanan terhadap emas masih dominan dalam jangka pendek.

A
30 Juni 2026 · 4 min read
0 pembaca
Mengapa Harga Emas Belum Kuat Naik Saat Konflik Memanas?

Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan merupakan saran investasi. Semua keputusan investasi tetap menjadi tanggung jawab pembaca masing-masing.

Harga Emas Tertahan: Risiko Geopolitik Naik, Dolar AS dan The Fed Lebih Dominan

Harga emas kembali melemah meski tensi geopolitik di Timur Tengah meningkat. Berdasarkan data Refinitiv, emas pada perdagangan Senin, 29 Juni 2026, ditutup di level US$4.015,21 per troy ons, turun 1,8%. Koreksi tersebut memutus penguatan dua hari sebelumnya yang mencapai sekitar 2,2%. Pada perdagangan Selasa pagi, 30 Juni 2026 pukul 06.02 WIB, harga emas relatif stagnan di US$4.014,78 per troy ons, melemah tipis 0,01%. Pergerakan ini menunjukkan bahwa status emas sebagai aset lindung nilai belum cukup kuat untuk mendorong reli ketika pasar juga berhadapan dengan prospek suku bunga tinggi dan penguatan dolar Amerika Serikat.

Konflik Iran-AS menjadi salah satu faktor utama yang membuat pasar tetap waspada. Pada akhir pekan, Iran dilaporkan meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain. Serangan tersebut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan kepemimpinan Iran jika negara itu tidak mematuhi ketentuan dalam perjanjian damai final. Situasi tersebut mendorong harga minyak Brent menguat karena investor memperhitungkan risiko gangguan pasokan energi. Namun, dampak terhadap emas tidak langsung positif. Kenaikan harga energi justru membuka ruang kekhawatiran baru: inflasi dapat bertahan tinggi lebih lama.

Dalam kondisi normal, ketidakpastian geopolitik biasanya meningkatkan minat terhadap emas. Logam mulia sering dipandang sebagai safe haven ketika risiko perang, krisis politik, atau gejolak pasar meningkat. Namun, hubungan tersebut tidak selalu linier. Bila konflik memicu lonjakan harga minyak dan memperbesar tekanan inflasi, bank sentral dapat terdorong mempertahankan suku bunga tinggi. Inilah titik yang menekan emas. Emas tidak menghasilkan bunga atau kupon, sehingga daya tariknya turun ketika imbal hasil aset berbunga, seperti obligasi pemerintah AS, tetap tinggi. Dengan kata lain, risiko perang memang mendukung emas, tetapi ekspektasi kebijakan moneter ketat menahan bahkan membalikkan dorongan tersebut.

Sinyal dari Federal Reserve menjadi tekanan besar berikutnya. Bank sentral AS memang mempertahankan suku bunga pada bulan ini, tetapi para pembuat kebijakan masih memperkirakan adanya satu kali kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun. Alasannya, inflasi belum kembali ke target 2%. Sikap ini dipandang hawkish oleh pasar karena menunjukkan The Fed belum siap memberi ruang pelonggaran moneter. Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, menyebut pasar masih fokus pada perkembangan Timur Tengah, tetapi investor juga terus menyesuaikan posisi terhadap sikap The Fed yang makin tegas. Kombinasi perang, inflasi, dan suku bunga tinggi membuat arah emas menjadi lebih rumit.

Faktor dolar AS juga memperbesar tekanan. Mata uang AS sedang menuju kenaikan bulanan terbesar dalam hampir satu tahun. Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Akibatnya, permintaan global dapat tertahan, terutama dari pasar non-AS. Dalam perdagangan komoditas internasional, emas dihargai dalam dolar, sehingga pergerakan indeks dolar sering menjadi variabel penting. Ketika dolar menguat, investor cenderung lebih berhati-hati menambah posisi pada emas. Situasi ini menjelaskan mengapa harga emas gagal memanfaatkan sepenuhnya sentimen geopolitik yang biasanya bersifat suportif.

Perhatian pasar kini tertuju pada data tenaga kerja Amerika Serikat. Data ketenagakerjaan ADP dijadwalkan rilis pada Rabu, sementara data nonfarm payrolls akan diumumkan pada Kamis. Kedua indikator ini penting karena dapat memengaruhi pandangan pasar terhadap arah kebijakan The Fed. Jika pasar tenaga kerja tetap kuat, argumen untuk mempertahankan suku bunga tinggi akan semakin solid. Dalam skenario tersebut, emas berisiko kembali tertekan. Sebaliknya, jika data menunjukkan pelemahan signifikan, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat mereda, sehingga tekanan terhadap emas berpotensi berkurang. Namun, untuk saat ini, pasar tampak belum memiliki alasan kuat untuk mendorong harga emas naik secara agresif.

Pelemahan juga terjadi pada perak. Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Senin, 29 Juni 2026, ditutup di US$58,30 per troy ons, turun 1,5%. Pada Selasa pagi pukul 06.03 WIB, perak bergerak sedikit menguat 0,1% ke US$58,36 per troy ons. Perak kerap bergerak searah dengan emas, tetapi juga dipengaruhi oleh prospek permintaan industri. Ketika dolar kuat dan ekspektasi suku bunga tinggi meningkat, logam mulia secara umum menghadapi tekanan. Karena itu, baik emas maupun perak masih berada dalam fase rentan. Reli baru kemungkinan membutuhkan pemicu lebih kuat, seperti pelemahan dolar, turunnya ekspektasi suku bunga, atau eskalasi geopolitik yang benar-benar mengubah persepsi risiko global.

#harga emas#konflik geopolitik#dolar as#the fed#suku bunga#inflasi#safe haven#minyak brent
Suka artikelnya?
A
Tentang penulis
Andini Kusuma

Penulis berkontribusi pada berbagai topik.

Semua artikel dari Andini Kusuma →

Bacaan terkait

Jelajahi semua