Beranda/Artikel/Mengapa Emas Dunia Turun Saat Perang AS-Iran Memanas?
Finansial

Mengapa Emas Dunia Turun Saat Perang AS-Iran Memanas?

Emas bertahan dekat USD 4.000 per ons saat konflik AS-Iran dan gangguan Selat Hormuz memicu risiko baru bagi pasar energi. Namun, kenaikan harga minyak dapat memperkuat inflasi dan membuat The Fed mempertahankan suku bunga tinggi, sehingga reli emas tetap tertahan.

Rizki Pratama, CFP®
30 Juni 2026 · 3 min read
0 pembaca
Mengapa Emas Dunia Turun Saat Perang AS-Iran Memanas?

Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan merupakan saran investasi. Semua keputusan investasi tetap menjadi tanggung jawab pembaca masing-masing.

Emas Dunia Dekati USD 4.000: Risiko Geopolitik Naik, Tekanan Suku Bunga Tetap Membayangi

Harga emas dunia kembali berada di bawah tekanan ketika ketegangan Amerika Serikat dan Iran memanas di kawasan Teluk Persia. Logam mulia tersebut bergerak mendekati level psikologis USD 4.000 per ons, level penting yang kini menjadi titik uji bagi pelaku pasar. Pada perdagangan Senin waktu Asia, harga emas spot sempat melemah 0,9 persen setelah sebelumnya naik 1,6 persen. Pada pukul 08.53 waktu Singapura, emas spot tercatat turun 0,6 persen ke USD 4.064,47 per ons. Koreksi juga terjadi pada logam mulia lain: perak turun 1,1 persen, sementara platinum dan paladium ikut melemah. Pergerakan ini menunjukkan pasar belum sepenuhnya kembali ke pola beli aman, meski risiko geopolitik meningkat.

Pemicu utama kekhawatiran berasal dari gangguan pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis bagi arus minyak global. Laporan mengenai kapal tanker pengangkut minyak mentah Qatar yang terkena serangan memperkuat kekhawatiran pasokan energi. Ketika jalur ini terganggu, harga minyak cenderung naik karena pasar memperhitungkan potensi keterbatasan suplai. Dampaknya tidak berhenti pada energi. Kenaikan minyak dapat mendorong biaya transportasi, produksi, dan distribusi, lalu memperkuat tekanan inflasi global. Bagi emas, kondisi ini menciptakan dilema: konflik biasanya mendukung permintaan aset lindung nilai, tetapi inflasi energi berisiko membuat suku bunga tetap tinggi lebih lama.

Situasi sempat mereda setelah Amerika Serikat dan Iran dilaporkan menyepakati penghentian serangan dan berencana melanjutkan pembicaraan di Doha, Qatar. Namun, pasar tetap berhati-hati karena gencatan senjata di kawasan rawan konflik sering kali rentan. Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena perannya dalam perdagangan energi dunia. Setiap gangguan di jalur ini dapat segera diterjemahkan pasar menjadi premi risiko pada harga minyak. Jika harga energi bertahan tinggi, ekspektasi inflasi dapat kembali menguat, terutama di negara konsumen besar seperti Amerika Serikat. Inilah faktor yang menahan emas dari reli lebih kuat.

Dari sisi teknikal dan psikologis, level USD 4.000 per ons menjadi batas penting. Analis Global X ETFs Australia, Justin Lin, menilai kemampuan emas bertahan di atas area tersebut mengindikasikan minat beli mulai muncul kembali. Menurutnya, pembeli tampak bersedia mempertahankan level USD 4.000 meski risiko di Selat Hormuz meningkat. Namun, konteksnya tetap penting: berdasarkan grafik Bloomberg, emas pernah menyentuh kisaran puncak USD 5.375 per ons pada 29 Januari 2026. Setelah perang Iran dan AS pecah pada akhir Februari, harga emas berbalik turun. Secara keseluruhan, logam mulia itu telah merosot lebih dari 20 persen sejak konflik dimulai.

Tekanan terbesar terhadap emas saat ini datang dari ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve. Data inflasi Amerika Serikat yang masih relatif tinggi, meski sesuai perkiraan pasar, membuat investor memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut kurang menguntungkan bagi emas karena emas tidak memberikan kupon, dividen, atau imbal hasil berkala. Ketika obligasi dan instrumen berbunga menawarkan imbal hasil menarik, biaya peluang memegang emas meningkat. Akibatnya, sebagian investor memilih aset berbunga, terutama saat dolar AS dan imbal hasil surat utang tetap kuat.

Dengan demikian, pasar emas kini menghadapi dua kekuatan berlawanan. Di satu sisi, ketidakpastian geopolitik, ancaman terhadap pasokan energi, dan risiko eskalasi konflik dapat menopang permintaan emas sebagai aset aman. Di sisi lain, kenaikan harga minyak dapat memperpanjang tekanan inflasi, mendorong bank sentral tetap ketat, dan menekan emas. Lin memperkirakan sensitivitas emas terhadap gejolak Timur Tengah mulai berkurang karena kenaikan harga sejak awal tahun telah terhapus dan investor jangka pendek kemungkinan sudah banyak keluar dari pasar. Artinya, untuk menembus kembali tren naik yang kuat, emas membutuhkan katalis tambahan: inflasi yang mereda, sinyal pemangkasan suku bunga, atau eskalasi geopolitik yang jauh lebih serius.

#emas dunia#harga emas#perang as iran#selat hormuz#suku bunga#inflasi global#risiko geopolitik#aset lindung nilai
Suka artikelnya?
Rizki Pratama, CFP®
Tentang penulis
Rizki Pratama, CFP®

Perencana Keuangan bersertifikat CFP® (Certified Financial Planner) dengan 8 tahun pengalaman di pasar modal Indonesia. Fokus membantu pemula memahami reksa dana, saham IDX, dan obligasi ritel. Pendiri komunitas @FinansialPintarID.

Semua artikel dari Rizki Pratama, CFP®

Bacaan terkait

Jelajahi semua