Mengapa Emas Turun Saat Konflik AS-Iran Memanas?

Mengapa Emas Turun Saat Konflik AS-Iran Memanas?

Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif, bukan merupakan saran investasi. Semua keputusan investasi tetap menjadi tanggung jawab pembaca masing-masing.

Emas Melemah Dekati USD 4.000: Konflik AS-Iran Justru Mengangkat Risiko Inflasi

Harga emas dunia kembali berada di bawah tekanan, mendekati batas psikologis USD 4.000 per ons, di tengah memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Secara teori, eskalasi geopolitik biasanya mendorong permintaan emas sebagai aset lindung nilai. Namun, dinamika terbaru menunjukkan pola berbeda: pasar lebih khawatir terhadap dampak inflasi energi dan arah suku bunga tinggi ketimbang sekadar mencari perlindungan pada logam mulia. Pada perdagangan Asia, Senin 29 Juni, harga emas spot sempat turun hingga 0,9 persen setelah sebelumnya menguat 1,6 persen. Pada pukul 08.53 waktu Singapura, emas spot tercatat melemah 0,6 persen ke USD 4.064,47 per ons. Penurunan juga terjadi pada logam mulia lain; perak turun 1,1 persen, sedangkan platinum dan paladium ikut terkoreksi.

Pemicunya bukan semata perang, melainkan konsekuensi ekonomi dari perang tersebut. Ketegangan di kawasan Teluk Persia kembali menyorot Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi pengiriman minyak global. Gangguan pada rute ini berpotensi mengerek harga minyak, memperbesar biaya energi, lalu menekan inflasi dunia. Sebuah kapal tanker pembawa minyak mentah Qatar dilaporkan terkena serangan ketika AS dan Iran saling membalas serangan pada akhir pekan. Peristiwa itu sempat memperbesar kekhawatiran gangguan pasokan energi. Meski kemudian situasi dilaporkan mereda setelah kedua pihak sepakat menghentikan serangan dan melanjutkan pembicaraan di Doha, Qatar, pasar tetap membaca risiko energi sebagai faktor utama yang dapat mengubah ekspektasi inflasi.

Dalam kondisi normal, perang dan ketidakpastian politik sering menjadi bahan bakar kenaikan emas. Namun kali ini, pasar melihat risiko inflasi sebagai ancaman yang lebih dominan. Kenaikan harga minyak dapat membuat inflasi lebih sulit turun, terutama di Amerika Serikat. Jika inflasi bertahan tinggi, Federal Reserve atau The Fed cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Inilah tekanan utama bagi emas. Logam mulia tidak memberikan kupon, bunga, atau imbal hasil berkala. Ketika obligasi dan instrumen berbunga menawarkan tingkat pengembalian lebih menarik, biaya peluang memegang emas meningkat. Akibatnya, meski geopolitik memanas, emas belum tentu otomatis menguat.

Data inflasi Amerika Serikat yang masih relatif tinggi, walau sesuai ekspektasi pasar, memperkuat pandangan bahwa The Fed belum memiliki ruang besar untuk melonggarkan kebijakan moneter. Selama bank sentral AS mempertahankan sikap ketat, dolar AS dan imbal hasil obligasi berpotensi tetap kuat. Kombinasi tersebut biasanya membatasi ruang kenaikan emas. Dengan kata lain, emas saat ini terjepit oleh dua kekuatan berlawanan: kebutuhan lindung nilai akibat konflik, tetapi tekanan valuasi akibat prospek suku bunga tinggi. Pasar tampaknya lebih fokus pada jalur kebijakan The Fed daripada narasi safe haven tradisional.

Analis Global X ETFs Australia, Justin Lin, menilai bertahannya emas di atas USD 4.000 tetap menunjukkan adanya minat beli pada level tersebut. Menurutnya, kemampuan harga emas mempertahankan area USD 4.000 saat ketegangan Selat Hormuz meningkat menjadi sinyal bahwa sebagian pembeli mulai kembali masuk. Namun, gambaran jangka menengah belum sepenuhnya kuat. Grafik Bloomberg menunjukkan emas pernah mencapai puncak sekitar USD 5.375 per ons pada 29 Januari 2026. Setelah perang Iran dan AS pecah pada akhir Februari, harga emas justru bergerak turun secara berkelanjutan. Secara total, emas telah merosot lebih dari 20 persen sejak konflik dimulai, menghapus kenaikan besar yang sebelumnya terbentuk.

Perubahan perilaku pasar ini menunjukkan bahwa sensitivitas emas terhadap konflik Timur Tengah mulai menurun. Investor jangka pendek kemungkinan telah banyak keluar setelah reli besar sebelumnya gagal dipertahankan. Sementara itu, pelaku pasar yang tersisa cenderung lebih selektif, menunggu kepastian arah inflasi, harga energi, dan kebijakan The Fed. Jika harga minyak terus naik karena gangguan Selat Hormuz, inflasi dapat kembali menguat, lalu memperpanjang periode suku bunga tinggi. Skenario tersebut berpotensi menekan emas lebih jauh. Sebaliknya, jika diplomasi Doha meredakan konflik dan inflasi energi terkendali, pasar dapat mulai menilai ulang peluang pelonggaran moneter, yang biasanya lebih ramah bagi emas.

Dengan demikian, pelemahan emas mendekati USD 4.000 bukan sekadar reaksi teknikal, melainkan cerminan perubahan prioritas investor. Konflik AS-Iran tetap penting, tetapi bukan satu-satunya penentu harga. Fokus pasar kini bergeser ke dampak lanjutan: minyak, inflasi, suku bunga, dan daya tarik aset berbunga. Selama The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga tinggi, emas berpotensi sulit menjalankan peran klasiknya sebagai safe haven secara penuh. Level USD 4.000 menjadi area penting psikologis sekaligus teknikal; jika bertahan, minat beli bisa menguat kembali. Jika tembus, tekanan jual dapat berlanjut, terutama bila inflasi energi kembali mengancam stabilitas global.

Rizki Pratama, CFP®

Rizki Pratama, CFP®

Perencana Keuangan bersertifikat CFP® (Certified Financial Planner) dengan 8 tahun pengalaman di pasar modal Indonesia. Fokus membantu pemula memahami reksa dana, saham IDX, dan obligasi ritel. Pendiri komunitas @FinansialPintarID.

16 artikel
Lihat semua tulisan